Category Archives: Insights

Bagaimana Ucapan Idul Fitri yang Sesuai Sunnah ?

Dikutip dari : salamdakwah.com

Bagaimana Ucapan Idul Fitri yang Sesuai Sunnah?

Sehubungan dengan  akan datangnya Idhul Fitri 1435 H, sering kita dengar tersebar ucapan:
“MOHON MAAF LAHIR & BATHIN ”.

Seolah2 saat Idhul Fithri hanya khusus untuk minta maaf.

Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idhul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku dihari Idhul Fitri. Demikian Rasul mengajarkan kita.

Tidak ada satu ayat Qur’an ataupun suatu Hadist yang menunjukan keharusan mengucapkan “ Mohon Maaf Lahir dan Batin ” disaat2 Idhul Fitri.

Satu lagi,  saat Idhul Fithri, yakni mengucapan :
“MINAL ‘AIDIN WAL FAIZIN”.

Arti dari ucapan tersebut adalah :
“ Kita kembali dan meraih kemenangan ”

KITA MAU KEMBALI KEMANA ?

Apa pada ketaatan atau kemaksiatan ?

Meraih kemenangan ?
Kemenangan apa ?                  

Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan ?

Satu hal lagi yang mesti dipahami, setiap kali ada yang ucapkan
“ Minal ‘Aidin wal Faizin ”
lantas diikuti dengan kalimat
“ Mohon Maaf Lahir dan Batin ”.
Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya.

Ini sungguh KELIRU luar biasa.

Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara2 seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara2 lain….PASTI PADA BINGUNG!.

Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI.

Ucapan yang lebih baik dan dicontohkan langsung oleh para sahabat ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ , yaitu :

“Taqobbal Allahu minna wa minkum “
( Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian )

Jadi lebih baik, ucapan / SMS /BBM kita :

” Selamat Hari Raya Idhl Fitri. Taqobbal Allahu minna wa minkum “
( Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian )

“SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1435 HIJRIAH. TAQOBBAL ALLAHU MINNA WA MINKUM” 🙂

mib_201308071359422497_taqabbalallahu-minna-wa-minkum-2

MENANTI GERHANA MATAHARI CINCIN 29 APRIL 2014

Image

Berdasarkan informasi Tanda Waktu yang telah dirilis oleh BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika). Selang 14 hari setelah terjadinya fenomena alam Gerhana Bulan Total pada Selasa, 15 April 2014 akan terjadi fenomena alam lain yakni Gerhana Matahari Cincin pada Selasa, 29 April 2014 mendatang.Gerhana Matahari Cincin ini hanya dapat disaksikan di sebagian Antartika  bagian timur laut. Sementara selain di wilayah tersebut, gerhana ini dapat juga dilihat di Australia, Samudra Hindia bagian selatan, dan sebagian Antartika bagian utara berupa Gerhana Matahari Sebagian. Beberapa daerah di Indonesia yang dapat di gunakan sebagai lokasi untuk mengamati gerhana ini berada di wilayah Indonesia bagian selatan. Yaitu, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur bagian Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Semua daerah pengamatan gerhana di Indonesia hanya tampak sebagai Gerhana Matahari Sebagian. Fenomena Gerhana Matahari ini sangat menarik untuk kita nanti dan amati, sekaligus mengingatkan kita akan kebesaran kuasa Sang Pencipta alam semesta Allah SWT.

Peristiwa terjadinya Gerhana Bulan yang disusul dengan Gerhana Matahari ataupun sebaliknya, Gerhana Matahari yang disusul dengan Gerhana Bulan merupakan sebuah ‘sunnatullah’ ketetapan Allah SWT. Sebab, tatkala Bulan menempati sebuah titik nodal pada saat fase oposisi/purnama, dan pada saat Bumi berada diantara Matahari dan Bulan. Atau Matahari, Bumi, dan Bulan berada sejajar dalam satu garis lurus, sehingga sinar Matahari yang menuju Bulan untuk dipantulkan kembali oleh Bulan terhalangi Bumi. Maka terjadilah fenomena Gerhana Bulan. Lalu, 14 hari kemudian Bulan pun akan menempati titik nodal yang berikutnya dalam fase konjungsi/Bulan baru, dan padasaatposisi Bumi berada diantara Matahari dan Bulan. Atau Matahari, Bumi, dan Bulan berada sejajar dalam satu garis lurus, sehingga sebagian sinar Matahari yang menuju Bumi terhalang oleh Bulan. Maka terjadilah Gerhana Matahari. Perlu Anda ketahui, titik nodal adalah titik potong orbit Bulan terhadap ekliptika (bidang edar Bumi dalam mengelilingi Matahari).

Kenampakan Gerhana Matahari

Salah satu tolok ukur untuk menilai gampang tidaknya suatu gerhana Matahari bisa diamati dari suatu lokasi adalah pada magnitudo gerhananya. Magnitudo gerhana merupakan luas bagian Matahari yang tertutupi oleh cakram Bulan di kala puncak gerhana Matahari berbanding dengan luas bundaran Matahari secara keseluruhan, yang dinyatakan dalam persentase. Sehingga bilamana magnitudo gerhana mencapai 100 %, maka seluruh bundaran Matahari tertutupi sepenuhnya oleh cakram Bulan. Saat itu kita akan melihatnya sebagai Gerhana Matahari Total. Sedangkan bila magnitudo gerhana di antara 90 hingga 100 %, maka masih ada bagian bundaran Matahari yang menyembul dari tepian cakram Bulan. Kita akan menyaksikannya sebagai Gerhana Matahari Cincin (Anular). Sementara bila magnitudo gerhana di antara 50 hingga 90 %, Matahari akan terlihat menyerupai sabit. Dan bila magnitudo gerhana kurang dari 50 %, maka Matahari akan terlihat sebagai lingkaran yang teriris/terobek pada salah satu sisinya.

Dalam gerhana Matahari 29 April 2014 besok, magnitudo gerhana di pulau Jawa bernilai antara 0 % hingga 1,8 % dengan nilai terbesar terletak di kota Banyuwangi (Jawa Timur). Sementara di pulau Bali magnitudo gerhananya di antara 1,5 % hingga 3 % dengan magnitudo terbesar di kota Denpasar. Di Nusa Tenggara Barat, magnitudo gerhana di antara 2,2 % hingga 3,2 %. Dan di Nusa Tenggara Timur, magnitudo gerhana berkisar di antara 0,3 % hingga 7,6 % dengan magnitudo tertinggi berada di kota Baa. Dengan demikian magnitudo gerhana di seluruh Indonesia adalah relatif kecil, katakanlah bila dibandingkan dengan daratan Australia yang berkesempatan menikmati gerhana Matahari ini dengan nilai magnitudo gerhana di antara 10 hingga 60 %.

Magnitudo gerhana yang kecil membuat Gerhana Matahari 29 April 2014 hanya bisa diamati dengan menggunakan teleskop di sebagian besar wilayah gerhana di Indonesia. Dengan tidak diperkenankannya kita menatap Matahari secara langsung menggunakan teleskop, maka teknik observasi gerhana bisa dilakukan dengan cara mereduksi sinar Matahari yang memasuki teleskop demikian rupa hingga intensitasnya tinggal 0,01 % dari semula dengan menggunakan filter Matahari ND-5 (neutral density 5). Atau bisa juga dengan menggunakan cara tak langsung, salah satunya berupa teknik proyeksi yang relatif lebih murah dan terjangkau.

Selain teleskop lengkap dengan penyangganya, teknik proyeksi membutuhkan sehelai kertas putih tak tembus cahaya yang bakal difungsikan sebagai layar proyeksi, sebuah penyangga (bisa tripod atau meja/kursi), sebuah payung dan kertas karton secukupnya. Kertas karton dipotong demikian rupa sehingga kertas putih tak tembus cahaya bisa direkatkan padanya dengan baik. Gabungan kertas ini lalu difungsikan sebagai layar proyeksi. Siapkan teleskop pada penyangganya demikian rupa untuk tujuan pengamatan Matahari. Arahkan teleskop menghadap Matahari sehingga sinar Matahari memasuki tabung teleskop dan diloloskan secara utuh oleh lensa okuler (eyepiece). Pasang layar proyeksi di belakang okuler untuk menghadang sinar Matahari yang keluar dari teleskop. Atur lensa okuler demikian rupa (gerakkan maju atau mundur) sehingga berkas sinar yang keluar darinya akan membentuk bayangan cakram Matahari yang bundar, tajam dan utuh di layar proyeksi. Selain berkemungkinan menangkap saat-saat cakram Bulan melintas di depan bundaran Matahari, observasi dengan teknik proyeksi juga berpeluang mengamati fenomena lain di permukaan Matahari, yakni bintik Matahari (sunspot).

TIPE GERHANA MATAHARI

Gerhana Matahari dibagi menjadi 3 macam tipe, yaitu gerhana Matahari cincin, gerhana Matahari sebagian, dan gerhana Matahari total.

  1. Gerhana matahari cincin terjadi jika piringan Bulan pada waktu puncak gerhana hanya menutup sebagian piringan Matahari. Gerhana matahari cincin terjadi jika ukuran piringan Bulan lebih kecil daripada piringan Matahari. Sehingga saat piringan Bulan terletak di depan piringan Matahari, tidak semua bagian piringan Matahari akan tertutup oleh piringan Bulan. Bagian dari piringan Matahari yang tidak tertutup oleh piringan Bulan, terletak di sekitar piringan Bulan dan tampak seperti cincin yang bersinar.
  2. Gerhana Matahari sebagian terjadi jika piringan Bulan ketika puncak gerhana hanya menutup sebagian piringan matahari. Saat gerhana ini, ada bagian piringan Matahari yang tak tertutup oleh piringan Bulan
  3. Gerhana Matahari dikatakan gerhana matahari total ketika puncak gerhana,  piringan Matahari ditutup sepenuhnya oleh piringan Bulan. Pada waktu itu, piringan Bulan sama besarnya atau lebih besar daripada piringan Matahari. Ukuran piringan Bulan dan piringan Matahari berubah-ubah, bergantung pada tiap-tiap jarak antara Bumi dan Matahari serta jarak antara Bumi dan Bulan.

Pada tahun 2014 ini BMKG telah memprediksi akan terjadi empat kali gerhana. Yaitu,

  1. Gerhana Bulan Total 15 April 2014. Gerhana ini dapat diamati dari wilayah Indonesia kecuali Jawa bagian Barat, Kalimantan bagian Barat dan Sumatera. Gerhana ini dapat diamati juga dari Afrika bagian Barat, Eropa bagian Barat, Samudra Atlantik, Amerika, Samudra Pasifik, Asia Timur, dan Filipina.
  • Gerhana Matahari Cincin 29 April 2014. Gerhana tersebut dapat diamati dari wilayah Yogyakarta, Jawa Timur bagian Selatan, Bali dan Nusa Tenggara berupa Gerhana Matahari Sebagian. Selain dari Indonesia, gerhana ini dapat diamati juga dari Australia, Samudra Hindia bagian Selatan, dan Antartika.
  • Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014. Gerhana ini dapat diamati dari wilayah Indonesia. Gerhana ini dapat diamati juga dari Amerika, Samudra Pasifik, Australia dan Asia kecuali Asia Barat.
  • Gerhana Matahari Sebagian 23 Oktober 2014. Gerhana tersebut tidak dapat dilihat dari wilayah Indonesia. Gerhana dapat dilihat di Amerika Utara dan Samudera Pasifik bagian utara.
Image

Gambar 1. Peta Gerhana Matahari Cincin 29 April 2014 di dunia

Image

Gambar 2. Peta Gerhana Matahari Cincin 29 April 2014 di Indonesia yang akan teramati berupa Gerhana Matahari Sebagian

 

Sumber :

http://bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Geofisika/Tanda_Waktu

http://ekliptika.wordpress.com

Flying to the Sky

Menyibak Tirai Ketaksempurnaan, Menjejaki Titian Keabadian

Dongeng Geologi

Geologi Lingkungan, Energi dan Kebencanaan

Ekliptika

Langit dan Bumi adalah sahabat kami...

A life of photographs

My kind of creative

Tech

News and reviews from the world of gadgets, gear, apps and the web

the science of conscience

A heap of random thoughts of an ordinary human